Senin, 30 Desember 2013

Keindahan Yang Mengandung Nilai Ekstrinsik Dan Intrinsik

Kata keindahan berasal dan kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah, karena dasarnya tidak benar. Sudah tentu kebenaran di sini bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan.
Sebagian filsuf lain menghubungkan pengertian keindahan dengan ide kesenangan (pleasure), yang merupakan sesuatu yang menyenangkan terhadap penglihatan atau pendengaran. Filsuf abad pertengahan Thomas Aquinos (1225-1274) mengatakan, bahwa keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan bilamana dilihat.

NILAI ESTETIK
Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa pengertian keindahan dianggap sebagal salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomik, nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik.

KONTEMPLASI DAN EKSTANSI

Keindahan dapat dinikmati menurut selera seni dan selera biasa. Keindahan yang didasarkan pada selera seni didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
Apabila kedua dasar ini dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan  terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah. Sesuatu yang indah itu memikat atau menarik perhatian orang yang melihat, mendengar. Bentuk di luar diri manusia itu berupa karya budaya yaitu karya seni lukis, seni suara, seni tari, seni sastra, seni drama dan film, atau berupa ciptaan Tuhan misalnya pemandangan alam, bunga warna- warni , dan lain-lain.
Apabila kontemplasi dan ekstansi ini dihubungkan dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan ekstansi ini merupakan faktor pendorong untuk merasakan, menikmati keindahan. Karena derajat kontemplasi dan ekstansi juga berbeda-beda antara setiap manusia, maka tanggapan terhadap keindahan karya seni juga berbeda-beda. Mungkin orang yang satu mengatakan karya seni itu indah, tetapi orang lain mengatakan karya seni itu tidak/kurang indah, karena selera seni berlainan.
Bagi seorang seniman selera seni lebih dominan dibandingkan dengan orang bukan seniman. Bagi orang bukan seniman mungkin faktor ekstansi lebih menonjol. Jadi, Ia lebih suka menikmati karya seni daripada menciptakan karya seni. Dengan kata lain, Ia hanya mampu menikmati keindahan tetapi tidak mampu menciptakan keindahan.

Contoh Kasus :
    Manusia dan Keindahan :
Laporan : Ari Maulana Karang, Tarogong Kaler
Ruang pertemuan yang ada di lantai atas Jemanni Restoran, Minggu (18/4) malam dipenuhi oleh muda-mudi. Masing-masing menggunakan pakaian yang menampakan identitas daerah asalnya. Mereka adalah duta wisata dari seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Jawa Barat.
Cantik dan gagah, itulah kesan pertama yang muncul saat melihat mojang dan jajaka istilah duta wisata di Jawa Barat itu hadir.  Momen inipun dimanfaatkan benar oleh Pemerintah Kabupaten Garut. Bupati Garut Aceng HM Fikri dan wakilnya Dicky Chandra sengaja hadir. Kemudian, Dicky Chandra mempresentasikan potensi wisata. Dari mulai dodol garut, domba garut, potensi wisata pantai yang panjangnya mencapai 80 kilometer lebih dan potensi alam lainnya yang memang layak dijual sebagai objek wisata.
Bupati Garut Aceng HM Fikri sendiri di hadapan para duta wisata berharap, mereka dapat menyosialisasikan potensi wisata Kabupaten Garut kepada masyarakat di daerahnya masing-masing. Menurutnya, besarnya potensi wisata Garut yang belum tergali karena kurangnya kreativitas. Padahal di daerah lain yang masyarakatnya kreatif, potensi wisata dapat tergali meski tidak sebesar Garut.
“Bentangan pantai di Garut cukup panjang, bahkan laut lepasnya berbatasan langsung dengan pulau Christmas Australia. Karena kurang kreativitas dalam mengemas potensi wisata maka hasilnya kurang maksimal,” jelasnya.
Keindahan alam Garut dan ramah tamah masyarakat Garut ternyata dinikmati benar oleh para duta wisata. Seperti diungkapkan oleh Lois Karoai (19) duta wisata dari Provinsi Papua. Dia benar-benar merasa kagum akan keindahan alam Kabupaten Garut. Lois yang mengaku tinggal di Jayapura, ibukota Provinsi Papua, menegaskan dirinya akan menyosialisasikan semua potensi wisata Garut kepada warga Papua kelak jika pulang ke Papua.

Ø  Tanggapan/ Respon :
Keindahan berhubungan dengan sebuah karya cipta , yaitu sebuah karya cipta tidak akan terlihat bagus tanpa keindahan yang ada di dalam nya , banyak karya cipta yang terlihat hanya sekedar bagus saja,Sebuah karya cipta amat erat hubungan nya dengan sebuah keindahan,karena keindahan sendiri menggambarkan sebuah karya cipta mendapat pencerahan tersendiri.Dalam sebuah karya cipta memerlukan keindahan yang amat menajubkan untuk terlihat bagus dimata para pengujung nya, ketika banyak orang ingin melihat sebuah karya cipta tersebut dapat terlihat kekaguman terpancar dari kedua mata mereka.Hubungan erat yang terjadi antara keindahan dan sebuah karya cipta menggambarkan bahwa sebuah karya butuh sebuah keindahan bila ingin terlihat menajubkan dan dikagumi banyak orang.



http://manusiabudaya.blogspot.com/2012/06/keindahan-dan-estetika.html#!/2012/06/keindahan-dan-estetika.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar