Kata
keindahan berasal dan kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek,
dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran
dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi,
dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran
berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah, karena
dasarnya tidak benar. Sudah tentu kebenaran di sini bukan kebenaran ilmu,
melainkan kebenaran menurut konsep seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan
makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan.
Sebagian filsuf lain
menghubungkan pengertian keindahan dengan ide kesenangan (pleasure), yang
merupakan sesuatu yang menyenangkan terhadap penglihatan atau pendengaran.
Filsuf abad pertengahan Thomas Aquinos (1225-1274) mengatakan, bahwa keindahan
adalah sesuatu yang menyenangkan bilamana dilihat.
NILAI ESTETIK
Dalam rangka teori umum
tentang nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa pengertian keindahan dianggap
sebagal salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomik,
nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu
yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik.
KONTEMPLASI DAN
EKSTANSI
Keindahan dapat
dinikmati menurut selera seni dan selera biasa. Keindahan yang didasarkan pada
selera seni didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi adalah
dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah
dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang
indah.
Apabila kedua dasar ini
dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi
penilaian bahwa sesuatu itu indah. Sesuatu yang indah itu memikat atau menarik
perhatian orang yang melihat, mendengar. Bentuk di luar diri manusia itu berupa
karya budaya yaitu karya seni lukis, seni suara, seni tari, seni sastra, seni
drama dan film, atau berupa ciptaan Tuhan misalnya pemandangan alam, bunga
warna- warni , dan lain-lain.
Apabila kontemplasi dan
ekstansi ini dihubungkan dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor
pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan ekstansi ini merupakan faktor
pendorong untuk merasakan, menikmati keindahan. Karena derajat kontemplasi dan
ekstansi juga berbeda-beda antara setiap manusia, maka tanggapan terhadap
keindahan karya seni juga berbeda-beda. Mungkin orang yang satu mengatakan
karya seni itu indah, tetapi orang lain mengatakan karya seni itu tidak/kurang
indah, karena selera seni berlainan.
Bagi seorang seniman
selera seni lebih dominan dibandingkan dengan orang bukan seniman. Bagi orang
bukan seniman mungkin faktor ekstansi lebih menonjol. Jadi, Ia lebih suka
menikmati karya seni daripada menciptakan karya seni. Dengan kata lain, Ia
hanya mampu menikmati keindahan tetapi tidak mampu menciptakan keindahan.
Contoh Kasus :
Manusia dan Keindahan :
Laporan : Ari Maulana
Karang, Tarogong Kaler
Ruang pertemuan yang
ada di lantai atas Jemanni Restoran, Minggu (18/4) malam dipenuhi oleh
muda-mudi. Masing-masing menggunakan pakaian yang menampakan identitas daerah
asalnya. Mereka adalah duta wisata dari seluruh provinsi di Indonesia, termasuk
Jawa Barat.
Cantik dan gagah,
itulah kesan pertama yang muncul saat melihat mojang dan jajaka istilah duta
wisata di Jawa Barat itu hadir. Momen inipun dimanfaatkan benar oleh
Pemerintah Kabupaten Garut. Bupati Garut Aceng HM Fikri dan wakilnya Dicky
Chandra sengaja hadir. Kemudian, Dicky Chandra mempresentasikan potensi wisata.
Dari mulai dodol garut, domba garut, potensi wisata pantai yang panjangnya
mencapai 80 kilometer lebih dan potensi alam lainnya yang memang layak dijual
sebagai objek wisata.
Bupati Garut Aceng HM
Fikri sendiri di hadapan para duta wisata berharap, mereka dapat
menyosialisasikan potensi wisata Kabupaten Garut kepada masyarakat di daerahnya
masing-masing. Menurutnya, besarnya potensi wisata Garut yang belum tergali
karena kurangnya kreativitas. Padahal di daerah lain yang masyarakatnya
kreatif, potensi wisata dapat tergali meski tidak sebesar Garut.
“Bentangan pantai di
Garut cukup panjang, bahkan laut lepasnya berbatasan langsung dengan pulau
Christmas Australia. Karena kurang kreativitas dalam mengemas potensi wisata
maka hasilnya kurang maksimal,” jelasnya.
Keindahan alam Garut dan ramah tamah masyarakat Garut ternyata dinikmati benar oleh para duta wisata. Seperti diungkapkan oleh Lois Karoai (19) duta wisata dari Provinsi Papua. Dia benar-benar merasa kagum akan keindahan alam Kabupaten Garut. Lois yang mengaku tinggal di Jayapura, ibukota Provinsi Papua, menegaskan dirinya akan menyosialisasikan semua potensi wisata Garut kepada warga Papua kelak jika pulang ke Papua.
Keindahan alam Garut dan ramah tamah masyarakat Garut ternyata dinikmati benar oleh para duta wisata. Seperti diungkapkan oleh Lois Karoai (19) duta wisata dari Provinsi Papua. Dia benar-benar merasa kagum akan keindahan alam Kabupaten Garut. Lois yang mengaku tinggal di Jayapura, ibukota Provinsi Papua, menegaskan dirinya akan menyosialisasikan semua potensi wisata Garut kepada warga Papua kelak jika pulang ke Papua.
Ø Tanggapan/
Respon :
Keindahan berhubungan dengan sebuah karya cipta ,
yaitu sebuah karya cipta tidak akan terlihat bagus tanpa keindahan yang ada di
dalam nya , banyak karya cipta yang terlihat hanya sekedar bagus saja,Sebuah
karya cipta amat erat hubungan nya dengan sebuah keindahan,karena keindahan
sendiri menggambarkan sebuah karya cipta mendapat pencerahan tersendiri.Dalam
sebuah karya cipta memerlukan keindahan yang amat menajubkan untuk terlihat bagus
dimata para pengujung nya, ketika banyak orang ingin melihat sebuah karya cipta
tersebut dapat terlihat kekaguman terpancar dari kedua mata mereka.Hubungan
erat yang terjadi antara keindahan dan sebuah karya cipta menggambarkan bahwa
sebuah karya butuh sebuah keindahan bila ingin terlihat menajubkan dan dikagumi
banyak orang.
http://manusiabudaya.blogspot.com/2012/06/keindahan-dan-estetika.html#!/2012/06/keindahan-dan-estetika.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar