Salah satu bentuk dari
Psikoterapi adalah Humanistik-eksistensial therapy, dimana metode terapi ini
memusatkan perhatiannya pada pengalaman-pengalaman sadar, masa sekarang “di
sini dan kini” – dan bukan masa lampau. Di masa lalu tidak terdapat bukti adanya
minat yang serius terhadap aspek-aspek filosofis dari konseling dan
psikoterapi. Pendekatan humanistik eksistensial-humanistik menekankan
renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh.
Dalam
penerapan-penerapan terapeutiknya, pendekatan eksistensial-humanistik
memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang melandasi terapi bagi
orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan
yang unik dan menjadi tujuan terapinya, dan melalui implikasi-implikasi bagi
usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang
menyangkut keberadaan manusia.
Hasil pemikiran dari
psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan
terapi, salah satunya adalah dari Carl Rogers dengan Client-Centered Therapy,
yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami
perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling
menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi
masalah-masalah kehidupannya.
Konsep-konsep
utama Humanistik-eksistensial therapy adalah sebagai berikut :
- Kesadaran diri
Manusia memiliki
kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, dimana suatu kesanggupan yang unik
dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berfikir dan memutuskan. Semakin kuat
kesadaran diri pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada
pada orang itu.
- Kebebasan, tanggung jawab, dan
kecemasan
Kesadaran atas
kebebasan dan tanggung jawan bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut
dasar pada manusia.
- Penciptaan makna
Manusia itu unik,
mereka berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang
akan memberi makna bagi kehidupannya. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang
bermakna akan menimbulkan kondisi isolasi, depersonalisasi, alinesi, dan
kesepian. Untuk itu manusia harus mengaktualisasi diri dengan mengungkapkan
potensi-potensi manusiawinya.
Tujuan
terapeutik dalam terapi humanistik-eksistensial untuk :
- Agar klien mengalami keberadaannya
secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi secara
sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
- Meluaskan kesadaran diri klien dan karenanya
meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan betanggung jawab
atas arah hidupnya
- Membantu klien menghilangkan
kecemasan-kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima
kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan
deterministik di luar dirinya.
Fungsi
dan peran terapis dalam terapi humanistik-eksistensial
Terapis dalam terapi
humanistik eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami
klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana tekhnik yang
digunakannya itu selalui mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap
kliennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang
satu ke klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang
dijalani oleh klien yang sama.
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi
humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
- Mengakui pentingnya pendekatan dari
pribadi ke pribadi ke pribadi
- Menyadari peran dari tanggung jawab
terapis
- Mengakui sifat timbal balik dari
hubungan terapeutik
- Berorientasi pada pertumbuham
- Menekankan keharusan terapis terlibat
dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh
- Mengakui bahwa putusan-putusan
dan pilihan akhir terletak di tangan klie
- Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan
pandangannya
- Mengurangi kebergantungan dari
klien terhadapnya
Kelebihan
dan kekurangan teori Humanistik
A. Kelebihan Teori Humanistik
1. selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa
demokratis, partisipatif-dialogis dan
humanis.
2. Suasana pembelajaran yang saling menghargai,
adanya kebebasan berpendapat, kebebasan
mengungkapkan gagasan.
3. keterlibatan peserta didik dalam berbagai
aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah
kemampuan hidup bersama (komunal-bermasyarakat)
diantara peserta didik yang tentunya
mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
B. Kekurangan Teori Humanistik
1. Teori humanistik tidak bisa diuji dengan mudah.
2. Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti
misalnya orang yang telah berhasil
mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan
subjektif.
3. Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap
nilai individualisti
DAFTAR PUSTAKA
D.Gunarsa, Prof.DR.Singgih.
(1992). Konseling dan Psikoterapi.
Gunung Mulia: Jakarta.
Lubis, Lumongga Namora.
(2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling
dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika
Aditama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar